BLOG »

Emerging Writers: Tak Sekadar Melahirkan Bacaan Bermutu

Emerging Writers: Tak Sekadar Melahirkan Bacaan Bermutu
  • Kat
  • on November 8, 2017

Merupakan kehormatan bagi Bitread untuk kembali menerbitkan Antologi Emerging Writers UWRF 2017: Origins. Penerbitan antologi ini merupakan bagian dari program bertajuk Emerging Writers yang dilaksanakan dalam rangkaian Ubud Writers & Readers Festival. Antologi ini merupakan edisi ke-10 dari Ubud Writers & Readers Festival. Salah satu tujuan diterbitkannya antologi ini ialah untuk memfasilitasi suara-suara generasi baru para pelaku literasi Indonesia agar dapat didengar ke berbagai pelosok dunia. Mengingat antologi ini dikemas dengan format dwibahasa (Indonesia-Inggris), kesempatan bagi karya ini untuk diapresiasi secara lintas-negeri sangatlah terbuka lebar. Proses penerjemahannya pun merupakan buah kerja keras tim penerjemah yang telah selama enam tahun mendukung UWRF dalam menerbitkan karya antologi resminya. Setiap pengunjung UWRF 2017 yang berasal dari berbagai negara juga mendapat buku antologi ini sebagai cenderamata, membuat karya-karya yang termuat di dalamnya sampai hingga ke negera-negara tempat mereka berasal.

Setiap tahun, UWRF menyerukan kepada para penulis nusantara untuk mengirimkan karyanya. Baik dalam bentuk cerpen, novel, puisi, prosa, puisi, dan skenario drama. Naskah-naskah yang dikirimkan tersebut kemudian dikurasi oleh dewan kurator yang bertugas untuk memilih karya-karya terbaik dari ratusan karya yang diterima oleh panitia. Seno Gumira Ajidarma dan Leila S. Chudori merupakan dua nama yang bertindak sebagai kurator pada tahun ini. Jumlah karya yang terpilih hanya berjumlah 15 naskah. Naskah yang diseleksi sangat bervariasi, baik dari segi tema, genre, dan lokasi tempat para penulis tersebut berdomisili, dari kota-kota besar yang hiruk-pikuk hingga sudut-sudut perkampungan yang terpencil. Mereka semua mengirimkan naskahnya untuk satu tujuan: dibaca dan didengar oleh masyarakat luas, termasuk dunia internasional. Janet Deneefe, Pendiri dan Direktur UWRF memandang program Emerging Writers ini merupakan suatu kesempatan yang berharga bagi para penulis Indonesia. Menurutnya, sangat disayangkan bahwa literatur Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Inggris sangat kecil jumlahnya. Dengan adanya program Emerging Writers ini, para penulis pemula dan berbakat Indonesia memiliki wahana untuk menyuarakan pesan dan kisah-kisahnya ke masyarakat dunia.

Melalui proses kurasi dan seleksi yang ketat, para penulis terpilih diterbangkan ke Bali dengan dukungan Yayasan Mudra Swari Saraswati sebagai penggagas UWRF dan para patron mereka yang datang dari berbagai pihak. Di Ubud-lah, karya mereka diluncurkan dan hadir ke tangan-tangan para pembaca dari berbagai kalangan. Selain itu, kerjasama yang dilakukan UWRF dengan sejumlah media di Australia—terutama dengan sejumlah stasiun radio—memberikan kesempatan berharga bagi para Emerging Writers ketika karya mereka dibacakan dalam program siaran radio yang mengudara di sana. Bahkan, Azri Zakiyah, Emerging Writers 2016 berkesempatan untuk membagi kisahnya di Emerging Writers Festival di Melbourne, Australia.

Jumlah naskah yang diterima panitia luar biasa banyaknya. Pada tahun ini, jumlah naskah yang dikurasi mengalami peningkatan hingga mencapai jumlah 900-an karya. Pada umumnya, karya-karya tersebut kental dengan nuansa budaya, sejarah, dan mitologi nusantara. Berikut daftar para Emerging Writers 2017.

1.      Azis Rasjid (Banyumas, Jawa Tengah)
2.      Ade Ubaidil (Cilegon, Banten)
3.      Nabil Wibisana (Kupang, Nusat Tenggara Timur)
4.      Aksan Taqwin Embe (Tangerang, Banten)
5.      Bayu Pratama (Mataram, Nusa Tenggara Barat)
6.      Erich Langobelen (Maumere, Nusa Tenggara Timur)
7.      Ibe S. Palogai (Makassar, Sulawesi)
8.      Mohammad Isa Gautama (Padang, Sumatra)
9.      Morika Tetelepta (Ambon, Maluku)
10.  Subhan (Padang, Sumatra)
11.  Na’imatur Rofiqoh (Ponorogo, Jawa Timur)
12.  Rahmat Hidayat Mustamin (Makassar, Sulawesi)
13.  Rizki Amir (Sidoarjo, Jawa Timur)
14.  Taufiqurrahman (Yogyakarta, Jawa Tengah)
15.  Seruni Unie (Surakarta, Jawa Tengah)

Tahun ini, untuk kali pertama penulis dari Nusa Tenggara Barat terpilih dan mendapat tempat untuk menyuarakan pesannya di hadapan para penikmat sastra dan penulis terkemuka dunia. Melalui program Emerging Writers dan penerbitan buku antologi ini, suara-suara yang berani, termarjinalkan, dan yang muncul dari pelosok wilayah terpencil di Indonesia dapat didengar dunia. Program ini tak hanya memperkenalkan para penulis muda dan berbakat dari Indonesia. Lebih penting daripada itu, Emerging Writers berusaha menyesapkan optimisme dalam menghadapi realitas melalui kekayaan khasanah literasi dan sastra Indonesia. (Luttfi Fatahillah)

Leave a review