Tanah Perempuan - Land of Woman (B. Indonesia - B. Inggris)

( 0 Hal color + 248 B/W )

“Kamilah ibu para yatim. Kamilah ibu para piatu. Kamilah ibu mereka yang menderita. Kami ibu dari semua jejak yang membekas di tanah ini!” Safiah Cut Keumala (Mala), seorang istri, ibu dan guru sejarah, berusia 35 tahun. Mala tinggal bersama suaminya, Majid, dan anak mereka, Agam, di rumah keluarga besarnya yang sederhana, bersama sang ayah yang dipanggilnya Abu (Harun), Mak (Hafsah), abangnya Ma’e serta Imran: adiknya. Ketakutan dan kepedihan telah dirasakan keluarga tersebut sejak Mala remaja, akibat pelaksanaan DOM (Daerah Operasi Militer). Namun kepedihan yang teramat sangat berawal ketika suatu hari, Ma’e, abang Mala hilang. Seakan hendak menambah luka yang menganga di batin Mala, terjadilah bencana gempa dan tsunami. Rumah Mala musnah. Mala terpisah dari Agam dan Mak. Berhari-hari, dalam kondisi luka-luka dan terguncang, Mala mendatangi tempat-tempat pengungsian, berharap dapat bertemu Mak dan Agam. Semua sia-sia. Di suatu tempat pengungsian Mala menemukan Mak telah meninggal. Di saat itu sekonyong-konyong Mala bertemu dengan Laksamana Keumalahayati, seorang pahlawan armada laut Aceh, laksamana perempuan terkemuka di dunia, yang hidup pada abad 16-an. Belum lagi hilang kebingungannya, ia tercengang saat bertemu dengan Safiatuddin Syah. Sesaat kemudian Mala sudah berada di sebuah hutan dan bertemu Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Pocut Baren dan Pocut Meurah Intan. Mala kini merasa tak pernah sendiri. Di tengah para pengungsi Aceh, ia selalu merasa ditemani oleh ribuan perempuan pahlawan Aceh yang terus memberinya semangat untuk bangkit. Inilah kisah tentang tanah yang indah, termahsyur di seluruh dunia, tempat lahir para pahlawan utama, yang gigih mengusir penjajah. Naskah drama ini akan memikat Anda dengan nilai-nilai, pesan, dan ketulusannya.[]

Customer Reviews
  • Belum ada review untuk buku ini.
Write Your Own Review
Write Your Own Review
  • Anda harus Login!

Harga

Rp. 82.000